Para Juri di #CoveringSounds

Saat gagasan mengadakan Covering Sounds ini muncul dan mulai dikonsep, hal penting yang menjadi pertanyaan bagi Indonesian Frengers adalah bagaimana memilih karya yang baik dan pantas menyandang juara nantinya. Lalu diputuskanlah bahwa penilaian karya di ajang Covering Sounds akan sepenuhnya kami percayakan kepada juri.

Konfirmasi tim juri sudah kami terima. Tim juri yang berperan disini terbagi menjadi 2 macam. Pertama, tim Juri Lokal yang terdiri atas empat orang, dengan rincian, dua orang juri berlatar belakang media / jurnalistik dan aktif di komunitas. Kemudian, dua orang berikutnya adalah juri dengan latar belakang pelaku musik. Berikut profil singkatnya.

 

Juri Pertama; Idhar Resmadi, Bandung

Pria kelahiran Bandung jebolan Fikom-Jurnalistik Unpad ini memulai track record-nya di ranah musik dalam negeri sejak 2005 lewat Ripple Magazine, majalah independen yang mengulas sosial budaya dan musik dengan ulasan segar dan gaya bahasa yang progresif di zamannya. Idhar kemudian menjabat sebagai posisi Pemimpin Redaksi hingga tahun 2009, kemudian di tahun yang sama ia sempat bergabung di Trax Magazine, menjadi kontributor review musik di Rolling Stone Indonesia, serta mengelola penerbitan mandiri situs Jakartabeat.Net hingga saat ini.

 

Juri Kedua; Mochamad Abdul Manan Rasudi, Depok


Manan, pria kelahiran Cirebon ini adalah pria biasa-biasa saja yang mengaku tidak terlalu banyak punya kegiatan strategis baik di komunitas atau menjalankan proyek serius di bidang musik. Wawasannya tentang musik, baik lokal maupun internasional cukup luas. Manan, pernah terlibat sebagai music reviewer di Apokalip Webzine pada tahun 2008-2010, sebuah blog musik yang dikelola oleh para music junkie kota Malang. Manan menjadi penulis tamu di Jurnallica, hingga akhirnya membentuk Primitif Zine di akhir 2010 sampai sekarang.

 

Juri Ketiga; Anggung 'Angkuy' Suherman, Bandung


Nama Angkuy tak bisa dipisahkan dari kegiatan bermusiknya di Bottlesmoker, grup/ duo electronic yang dibentuknya bersama Ryan Adzani (Nobie) pada 2005. Kepiawaian Angkuy meracik dance, electronic & toy music mulai diperhitungkan dalam skena musik lokal dan internasional sejak Slow Mo Smile –album kedua Bottlesmoker– dirilis oleh tiga netlabel asal Amerika, Cina, dan Indonesia dengan konsep free sharing music yang bebas unduh. Angkuy sendiri juga punya side-project bernama The Matilda Tortor yang keseluruhan materinya digarap sendiri. Lewat The Matilda Tortor, Angkuy mempraktikkan dengan unik bagaimana ia menggunakan berbagai software dan equipment untuk menghasilkan suara musik yang abstrak, eksperimental dan cenderung tanpa pakem.

 

Juri Keempat; Cholil Mahmud, Jakarta

Tak banyak yang bisa diceritakan dari sosok musisi –yang boleh jadi– cukup disegani di ranah indie pop lokal. Yang jelas, Cholil Mahmud adalah frontman paling bertanggung jawab dari berbagai elemen artistik dan musikalitas Efek Rumah Kaca, band yang dibentuknya bersama Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar) sejak 2001. Cholil, selain kami nilai cermat dalam memilih lirik yang menjadi pondasi berbagai lagu ciptaannya, juga mampu membawa komposisi nada-nada sederhana menjadi tak terduga di berbagai karyanya bersama Adrian dan Akbar di dua album ERK. Rilisan terbarunya bersama Pandai Besi, berjudul “Daur, Baur”, sebagai ERK's alter ego project yang mengaransemen ulang lagu-lagu album pertama ERK bahkan melampaui ekspektasi banyak orang terhadap proyek cover song ini.

 

 

Dan akhirnya, setelah jauh hari Indonesian Frengers mengajukan permohonan kepada sasaran tim juri kedua, yaitu Juri Internasional yang tak lain adalah band kegemaran semua frengers itu sendiri, Mew, untuk turut serta menjadi juri Covering Sounds, dan jawabannya, Mew menyanggupi dengan penuh antusias. Jadi, sekali lagi, juri internasional untuk Covering Sounds - “Our Voice Beyond Your Ears” adalah... Mew!!